Keraguan

Beberapa bulan lalu, di milis alumni kampus sempat agak ramai tentang “publikasi riset di jurnal kelas dunia”, yang isinya memberikan selamat pada seorang alumninya yang bisa dikatakan memiliki prestasi yang sangat baik di tingkat internasional terkait publikasi riset. di tengah-tengah ucapan selamat pada sang alumni, sang alumni itu membalas,

“Sebenarnya sebagai orang tuh aku sudah gagal total karena sampe sekarang masih selalu ragu mau kemana. Kalau sudah di jakarta dan gaul sama teman2 di jakarta, semangat pengen jadi pengusaha muncul. Tapi kalau pas lagi sibuk ngerjain proyek, suka merenung, ngapain dulu susah2 sekolah di jepang kalau ujungnya cuma jadi pengusaha. Terus kalau lagi pergi ke jepang, suka ngiri sama teman2 sekolah, mereka sudah jadi sangat terkenal, langsung muncul semangat pengen meneliti, jadi males ngerjain proyek. Kalau lagi di kampus dan ditungguin mahasiswa bimbingan, merasa kasihan sama mahasiswa kalau terlalu banyak ditinggal mroyek atau ditinggal mengejar karir internasional.”

(telah diedit dengan beberapa pengurangan tanpa penambahan)

Sang alumni itu tak lain ialah dosen pembimbing saya dulu. Beliau memang cukup dikenal terkait prestasinya baik nasional maupun internasional dalam penelitian bidang yang ia tekuni.

Sewaktu membaca ini, hal yang menjadi perhatian saya adalah “… sampe sekarang masih ragu mau kemana”. Ternyata seseorang sekaliber beliau pun, terkadang masih ragu dalam menentukan tujuan. Awalnya sedikit lega, berarti wajar klo sekarang saya terkadang ragu/galau dalam mengambil pilihan, menentukan tujuan, kan saya masih muda (haha..). tapi saat direnungkan kembali jadi kepikiran, gimana kalau nanti setelah seumuran beliau, saya masih ragu dengan apa yang telah dilakukan. Atau hal tersebut wajar?

“Rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri”

-katanya-

Terkadang saat seseorang mengeluh dengan keadaannya dan melihat orang lain lebih ‘sukses’, maka sebagian kebahagiannya telah terambil. terkadang kita hanya melihat hasil akhir dari sesuatu tanpa mau melihat/tau bagaimana proses menuju kesana, “jaman sekarang segala sesuatu pengennya yang instant” -katanya-.

Saya belajar bahwasanya seseorang terlihat lebih bahagia mungkin karena mereka lebih pandai bersyukur, padahal mungkin beban hidupnya jauh lebih besar daripada yang terlihat. Mungkin rumput tetangga tidak akan terlihat lebih hijau bila kita bisa lebih bersyukur terhadap apa yang kita peroleh. Ada suatu kutipan yang pernah saya baca.

“Do what you Love, Love what you Do”

Mungkin kita bisa lebih bersyukur dan lebih bahagia saat kita bisa melakukan apa yang kita suka. “Do what you love”, mungkin ada kaitannya dengan yang saat ini dikenal dengan istilah passion. seperti halnya salah satu buku koleksi saya “Your Journey To be The Ultimate U” karya Rene’ Suhardono yang isinya mengajak pembacanya untuk mengikuti passionnya, “follow your passion” -katanya-

Namun tidak semua orang bisa menjalankan “follow your passion”, dengan segala keterbatasan dan faktor yang berbeda-beda. atau mungkin kita belum menemukan apa itu passion, dalam hal ini to “Love what you do” is the best things to do. terkadang memang tidak mudah untuk menyukai apa yang kita kerjakan dengan segala faktor yang ada entah itu jenis pekerjaan, lingkungan, dan hal lainnya. Namun saat kita bisa mensyukuri dan belajar menyukai apa yang kita kerjakan, mungkin malah hal tersebut menjadi passion yang selama ini dicari.

to “love what you do”, di tengah keraguan yang terkadang menghampiri, hal ini menjadi pegangan. Terlepas dari berbagai permasalahan yang ada, I think I’m happy with my job. I’m not regret with the way I choose, and oneday I will achieve my dreams. it’s not easy but it’s not impossible.

How about you?

Are you happy with what you do? 

Do you hesitate with goals or the way you choose?

3 thoughts on “Keraguan

  1. Haha galau hayang kaluar?
    Intinya erek move on moal? Ganti suasana teu?
    Kata aing sih ga ada salahnya. Toh maneh dah kenal “rumput sendiri”, mau coba pindah rumput kan gapapa. Selama tau resikonya, baik buruknya.

    Kawin ma, hehe.
    Terus kutipan kata imam syafii kurang lebih “merantaulah, aku tak melihat air menjadi keruh karena tergenang. Dan air jernih karena mengalir”
    Kecuali cai solokan pinggir imah maneh ya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s