Catatan Perjalanan : Kota Pengasingan, Banda Naira

19 Mei 2013

Seorang penumpang menjadi pusat perhatian ketika ia terdengar sedang berdebat dengan pramugari. Dia memperdebatkan pizza 6 tingkatnya yang tak muat dimasukan ke dalam kabin pesawat. Saya yang duduk 3 kursi dibelakangnya cukup jelas untuk melihat dan mendengar perdebatan mereka. Sang penumpang ingin pizzanya berada di dekatnya, namun dia tak boleh memegangnya dan kabin di atas kursinya telah penuh dengan tumpukan tas. Dia bersikukuh untuk memegang pizza itu selama perjalanan. Namun penumpang tersebut pun harus mengalah, pizza 6 tingkat itu pun dibagi menjadi 2 ( 4 dan 2 tingkat) di simpan di kabin kosong yang jauh dari kursinya. Pesawat pun lepas landas di kesunyian dini hari menembus awan menempuh perjalanan panjang menuju timur Indonesia, kota Ambon.

Minggu pagi yang cerah menyambut kedatangan kami (saya dan seorang rekan kerja). Teringat hari pernikahan seorang teman dekat yang ingin saya hadiri hari ini, namun tugas ini tak bisa saya tolak. Keponakan pertama pun belum ditengok, tak apalah, sedikit berkorban untuk pengalaman.

Matahari telah berada di sisi barat, kapal pun tiba disambut ratusan penumpang yang telah menunggunya berjam-jam. Tak lama, para penumpang berlomba memasuki kapal lebih dulu, berdesak-desakan tak sabar ingin segera naik. Begitu masuk ke dalam kapal, setiap orang bebas memakai tempat manapun asalkan belum ditempati orang lain. Saking bebasnya semuanya menjadi tidak teratur, barang berkarung-karung bebas disimpan dan sebagian penumpang pun tidak mendapat tempat, termasuk kami. Selama ada ruang kosong kau bisa tempati, begitulah kata mereka, walaupun harus tidur di lantai beralaskan tikar bagai pengemis di tengah jalan, padahal semua membayar dengan harga yg sama. Setelah berbincang, barulah saya sadar bahwa hal ini hanya terjadi untuk kelas ekonomi, namun tidak untuk kelas di atasnya. Menyesal rasanya tak membeli tiket untuk kelas di atasnya, tapi mungkin saya tak akan mendapat pengalaman ini, yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.

12 jam melewati malam, kapal berhenti, kami telah tiba di “Pulau Pengasingan, Banda Naira”. Berada di tengah-tengah laut banda, pulau kecil ini memang cocok dijadikan temat pengasingan, setidaknya begitulah yang dilakukan penjajah belanda jaman dulu untuk mengasingkan tokoh-tokoh bersejarah seperti sultan syahrir dan Muh. Hatta. Tempat dengan laut yang indah, sayangnya kami kesini bukan untuk wisata, ada tugas yang perlu kami kerjakan dan selesaikan. Setidaknya aku pernah menginjakan kaki di pulau pengasingan ini.

It’s time to work..

2 thoughts on “Catatan Perjalanan : Kota Pengasingan, Banda Naira

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s