Cerita dari Tetangga

Salah satu hal berharga dalam perjalanan yang saya lalui adalah ketika bertemu dan mendengar cerita dari seseorang yang usianya jauh lebih tua. orang tersebut bisa saja senior di kantor ataupun orang lain yang bertemu dalam perjalanan. Dalam beberapa tulisan saya sebelumnya pernah saya tulis tentang Mr. D, seorang pensiunan kantor yang masih suka membantu ikut pekerjaan, ataupun tentang supir langganan saya di kota Yogya dan Makassar, mereka orang yang umurnya jauh lebih tua dari saya, tak jauh dari usia ayah. Karena perjalanan hidup mereka yang telah lebih dari setengah abad, banyak cerita dan pengalaman yang bisa mereka share, dan banyak dari cerita merupakan pelajaran berharga.

Dua kali perjalanan ke pulau Sumba, tahun lalu dan pertengahan tahun ini, kurang memberikan kesan mendalam, mungkin karena waktu yang singkat dan tak banyak yang saya lakukan disana. Perjalanan ke-3 ke tempat ini, pertengahan September lalu mulai memberikan kesan berarti, rasa kesal, emosi, pusing, penuh tekanan namun dibalik itu saya bertemu dengan orang-orang yang memberi banyak pelajaran hidup. Saya bertemu dengan banyak orang-orang pintar dengan pendidikan tinggi, S2 ataupun S3, berinteraksi dengan mereka terkait pekerjaan yang sedang dilaksanakan, ada ilmu yang saya dapat walau kami sering berdebat. tapi bukan terkait ilmu itu yang ingin saya ceritakan dalam tulisan ini.

Saya tinggal di sebuah kosan disana. Kosan tersebut terdiri dari 7 kamar dimana saya menempati kamar no. 4. Di kosan inilah saya bertemu dengan seseorang yang memberikan banyak cerita dan pengalaman hidup yang tak biasa dan tentunya berharga. seseorang itu tetangga kosan di kamar no.7, seorang pria dengan usia lebih dari setengah abad yang tak disangka dia juga berasal dari bandung (cimahi sih tepatnya). Dengan bahasa yang sama (sunda), obrolan kami pun jadi lebih nyambung. seperti halnya saya, beliau juga sedang melaksanakan perkerjaan di tempat ini.

Bila melihat tampilannya, tampak biasa-biasa saja tapi setelah kenal terlihat jelas betapa luas dan pintarnya pengetahuannya. basic ilmu yang dipelajarinya sewaktu kuliah dulu adalah geodesi tapi banyak ilmu yang ia pelajari seperti sejarah, sosiologi, dll. Dari Sabang sampai Merauke, telah banyak tempat yang pernah ia datangi dengan cerita-cerita uniknya. Jika dia sudah bercerita, kami bisa mengobrol 2-4 jam untuk satu cerita.

Suatu ketika kedua teman pulang lebih dulu ke bandung, saya masih sendiri disini karena masih ada urusan. Di malam hari saat mencari udara segar di luar kamar, beliau datang menghampiri, mulai mengobrol dan dimulailah cerita. Di mulai dari berbincang tentang pekerjaan yang sedang dikerjakan, berlanjut pada pengalamannya dalam perjalanan ke suku Asmat dan Dani selama 2 tahun, bergabung dalam suatu tim mereka menjalani kehidupan mengikuti kebiasaan suku adat setempat (Asmat dan Dani). tujuan dalam perjalanan tersebut merupakan suatu penelitian yang berhubungan dengan sosiologi. untuk bisa masuk ke dalam tim, beliau diseleksi terlebih dulu, tak sembarang orang bisa ikut dalam misi tersebut. Tim ini memang tidak sembarangan berasal dari berbagai negara karena memang misi ini dibiayai oleh suatu lembaga berskala interasional. begitulah cerita beliau, menceritakannya dengan sangat semangat.

Masih di saat yang sama, beliau melanjutkan cerita terkait kisahnya yang penasaran dengan suatu suku di Kalimantan. beliau pergi sendiri ke tempat suku itu berasal mencoba untuk memahami kehidupan suku tersebut hanya untuk menjawab rasa penasarannya. Dilanjutkan kisah tentang rasa penasarannya terkait apakah benar nenek moyang kita seorang pelaut? apa benar orang suku bugis itu pandai dalam melaut? Suatu hari (di tahun 80an) beliau berada di Kalimantan bertemu dengan orang bugis, kemudian dia menantang mereka,

“berani tidak, kita berlayar tanpa kompas, hanya mengandalkan angin dan layar seperti nenek moyang kita jaman dulu? kira-kira kamu buth berapa, saya bayar.”

orang bugis tersebut meminta 3 juta, dan beliau akhirnya memberikan uang kepada mereka 5 juta. Mereka pun sepakat dan melakukan perjalanan bersama-sama, tanpa membawa kompas tanpa menggunakan mesin, tanpa membawa makanan, hanya air tawar yang banyak yang mereka bawa dan korek. Beliau melihat bagaimana orang-orang bugis tersebut mencari tau arah dengan membaca rasi bintang.

“mereka ga mempelajarinya dari ilmu astronomi sekolah, tapi memang sudah diajarkan secara turun temurun”, cerita beliau.

“Kalau masalah mancing mah ga usah ditanyain lagi, mereka mah jagonya”, tutur beliau

Beliau juga menceritakan bagaimana mereka sangat pandai dalam membaca waktu saat ini dengan jam matahari. jam matahari tidaklah sesimpel menegakan pensil dan melihat bayangannya ke arah jam berapa ada perhitungan lainnya karena waktu (tanggal) berapa saat itu juga menentukan arah bayangannya, hal yang rumit yang mereka pelajari/dapatkan secara turun temurun bukan dari bangku sekolah. Akhirnya setelah satu bulan, perjalanan pun berakhir. Mereka sukses berlayar dari timur kalimantan mencapai barat kalimantan. Beliau pun puas dengan perjalanannya itu, walaupun harus mengeluarkan uang 5 juta hanya untuk rasa penasaran dan kepuasannya itu. 5 juta di tahun 80an, entah bila saat ini sebanding dengan berapa.

“Ah, 5 juta mah murah atuh dibandingkan dengan kepuasan yang didapat.”, tutur beliau

Cerita tersebut menutup obrolan kami malam itu, tak terasa waktu sudah hampir tengah malam.

Di lain hari, banyak obrolan yang kami perbincangkan, namun salah satu yang paling menarik adalah cerita beliau tadi siang tentang salah seorang keluarganya. Saya yang kebetulan sendiri (lagi) di tempat ini disapa beliau dan mulailah obrolan kami. Dimulai dari cerita perjalanan beliau kemarin menuju pantai yang akhirnya menjadi ‘ethnic runaway’ karena harus menginap di rumah adat setempat. Obrolan berlanjut hingga beliau menceritakan pamannya.

Pamannya seorang pengusaha di kota Garut, memiliki puluhan angkutan umum, berhektar-hektar sawah, dan banyak kolam ikan. Namun di usianya yang sudah ‘berkepala enam’, pamannya ini mempercayakan bisnis-bisnisnya ini ke ketiga orang kepercayaannya, tak banyak turun tangan hanya melihat laporan. karena tidak mengurusi bisnisnya, hal yang beliau lakukan adalah berjalan-jalan menjadi musafir ke suatu tempat secara random. Kebanyakan tempat yang disinggahi beliau adalah mesjid. Saat beliau berada di mesjid yang didatanginya mulailah ‘mengeluh’,“naha, ieu teh karpet (sajadah) teh keras, geus usang deuih, cing mana pangurus mesjid”, beliau memanggil pengurus masjid dan mulai berbincang,

“cing pangitungkeun eta sajadah sabaraha meter?” (tolong hitung panjang sajadah berapa meter?)

“bade naon kitu pa haji?” tanya pengurus masjid (Mau apa emang pa haji?)

“Ah henteu, pangitungkeun weh” (Ah enggak, itungin aja)

Pengurus masjid pun mengikuti perintah beliau, setelah dihitung beliau pun pamit pulang sambil berkata,

“Isuk mun aya nu nganter sajadah anyar, tampi weh eta ti abdi kanggo masjid” (Besok kalau ada yang nganter sajadah baru, terima aja itu dari saya buat masjid)

Dan beliau pun melanjutkan perjalanannya ke daerah lain. Di mesjid lainnya, dia melihat kondisi jamaah yang sedikit dan memang kondisi masjid yang memprihatinkan, beliau langsung memanggil pengurus masjid untuk ngobrol dan langsung pada esok harinya mengajak mereka untuk belanja untuk renovasi masjid.

“aduh pa haji, sanesna alim eta renovasi biayana ageung”, kata pengurus masjid (waduh pa haji, bukannya ga mau direnovasi tapi biayanya mahal)

“Eh teu kudu dipikiran sabarahana mah, ayeuna mah pikiran renovasi weh”, (Ga usah dipikiran berapanya, pikirkan renovasinya aja)

Besoknya mereka belanja dengan seluruh biayanya ditanggung beliau, kemudian memberikan uang untuk buruh mengerjakan renovasi masjid, dan beliau pun melanjutkan jalan-jalannya ke lokasi lain.

Di daerah lain, beliau melihat banyak warga tidak pergi shalat jum’at. kemudian dengan spontan beliau bertanya pada warga ada lahan yang dijual, dia pengen bikin rumah disana. Setelah bertemu dengan pemiliki tanah, langsung pada besoknya mereka transaksi. esoknya lagi beliau membawa tim untuk survey dan mendesain rumah, setelah survey dan telah dibuat desain rumah, beliau mengumpulkan warga setempat untuk ngobrol.

“Pa, Abdi teh didieu hoyong ngadamel bumi, tapi sanes bumi abdi, abdi teh hoyong ngadamel mesjid, ari bapa-bapa tiasa ngarawatna? tah ieu disen-na, satuju teu?” (Bapak2, saya ingin bikin rumah disini, tapi bukan rumah saya. saya ingin bangun mesjid, bapa-bapa bisa ngerawatnya? ini desainnya, bapa-bapa setuju ga?”

“Waduh pa haji, kan ngadamel masjid teh, artosna teu sakeudik.”, tanya warga (Waduh pa haji, ngebangun mesjid kan mahal)

“Eh, tong dipikiran duitna mah, disainna satuju teu, eta weh” (jangan dipikirkan uangnya, lihat aja desainnya, setuju ga)

“Nya satuju pisan atuh kitu mah pa haji”, sambut warga (Sangat setuju kalau begitu, pa haji)

Pembangunan pun dilakukan sekitar satu bulan dan jadilah masjid di daerah tersebut, dengan begitu warga bisa beribadah shalat jum’at karena sebelumnya belum ada masjid disana.

“Pa haji, ieu masjid bade dinamian nama pa haji”, tanya warga (Pa haji, ini masjid mau dinamain nama pa haji?)

“Eh ulah, nama urang mah goreng, namaan weh Al-Ikhlas, jadi urang teh ngalakukeun nanaon teh kudu ikhlas.” (Eh jangan, nama saya jelek, namakan saja Al-Ikhlas, jadi setiap apa yang kita lakukan itu harus ikhlas)

Masih banyak lagi sebenarnya cerita tentang pamannya beliau ini, dan saya cukup senang mendengarnya, masih ada orang seperti itu di dunia ini. haha, tentu saja ada dan banyak, tapi mereka jarang menampakan diri karena memang tidak perlu. beramal itu cukup Tuhan yang tau.

Tak terasa, kami sudah mengobrol selama 4 jam siang tadi. malamnya kami ngobrol lagi, tapi tidak terlalu penting, hanya membahas smartphones karena kebetulan saya sedang membaca tabloid pulsa. Obrolan malam selesai, dan saya pun terpikir untuk langsung menuliskan tentang beliau. Enough for today, there still a road to be passed for tomorrow.

tambolaka, 28 Oktober 2013

-gautamakarisma-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s