Menjadi guru

Impiannya menjadi guru, dulu dan masih hingga saat ini.

Bukan karena kedua orang tuanya juga guru, namun keinginan natural yang terbesit sewaktu kecil ketika dia menikmati momen-momen belajar, belajar matematika pelajaran favoritnya. Dia sewaktu kecil sering heran dengan teman-temannya yang tidak menyukai pelajaran itu karena merasa sulit, darisitulah terbesit pikirannya, “seandainya nanti sudah besar, Aku ingin menjadi guru matematika untuk bisa mengajarkan bahwa matematika itu pelajaran yang mudah”, dan pikiran itu tertanam sangat dalam.

Dulu, dia cukup ‘freak’ terhadap pelajaran itu. seringkali mencoba belajar materi di atas materi yang sedang diajarkan. Belajar materi kelas 4 saat masih kelas 3, penasaran mengerjakan soal pr kakaknya walaupun akhirnya gagal mengerti dan sang kakak kesal karena merasa diganggu. sering dia tidak memperhatikan pelajaran lain dan malah asik mencorat-coret buku bagian belakang dengan melakukan perhitungan soal random yang dibuatnya sendiri, dengan level soal yg lebih sulit dari materi yg diajarkan saat itu. Dia senang akan itu, bahagia, tanpa peduli orang disekitarnya.

Pendidikan disana yang seakan-akan meng’agung’kan pelajaran eksak membuatnya disebut anak ‘pintar’ oleh temannya dan sepertinya dia pun terhipnotis akan sebutan itu yang sadar tak sadar secara perlahan menambah kesombongan diri.

Sewaktu SMA, dia mulai menyadari bahwa di atas langit masih ada langit. Di suatu ajang perlombaan, dia dipertemukan dengan orang-orang yang jauh lebih ‘freak’ dari apa yang dia lakukan, mempelajari pelajaran sma di waktu smp ataupun mengerjakan soal-soal yang tak lazim dikerjakan anak seumurannya. Mereka ‘pintar’? ya. mereka ‘genius’? ya. tapi itu semua tidak didapat secara instan, mereka melakukan lebih dari anak lainnya, mereka mengorbankan sebagian waktu mereka untuk itu, tapi mungkin itu bukanlah suatu pengorbanan karena mereka menikmatinya, mereka senang akan itu. Dia belajar banyak dari ajang ini, membuatnya semakin bersemangat.

Masih di saat SMA, dia mulai menemukan kebahagiaan. Dalam suatu event, dia diberi kesempatan untuk mengajar temannya di suatu bimbel walau hanya sehari, kesempatan yang muncul karena suatu hal konyol. Dia senang, suatu pengalaman berharga yang ia dapat namun terlalu berlebihan dalam menikmatinya. Dia mulai berpikir bahwa dirinya hebat, pernah mengajar di suatu bimbel terkemuka walau hanya sehari. Dia mulai merasa cukup hebat untuk menjadi guru, cukup ‘pintar’ untuk bisa mengajarkan ilmu pada teman-temannya.. Hei, it’s a big mistake!!

Di masa perkuliahan, dia mulai menyalurkan hobi mengajarnya. mengajar teman, ikut mengajar di event suatu bimbel, mengajar adik kelas dalam kegiatan tutor, dan menjadi guru privat. Dia senang dengan semua itu, kecuali saat menjadi guru privat. Dia mulai menyadari motivasinya yang membuatnya tak bahagia. diantara semua, motivasi utamanya adalah menyalurkan hobi, sedangkan menjadi guru privat, motivasi utamanya adalah uang.

Dia mendapat uang saat menjadi guru privat, namun tidak bahagia akan itu, merasa uang yang didapat menjadi tanggungan/jaminan bahwa anak yang diajarnya harus menjadi ‘pintar’. Dia merasa tertekan dengan itu walau tak ada yang menekannya untuk itu. Dia mulai mengajarkan jurus-jurus cara cepat mengerjakan soal, sekedar mengajarkan soal yang murid sodorkan, mengejar materi yang banyak hanya dalam waktu singkat, seakan hanya sekedar menjalankan kewajibannya.. Hei, it’s a big mistake!!

Dia mulai sadar, dia belum mengerti apa essensi mengajar. Dia belum paham betul apa sebenarnya yang diinginkan, dibutuhkan, dan apa yang harusnya mereka (murid-murid) dapat mengerti dari materi yang diajarkan. Dia lupa untuk hanya terpaku pada nilai dengan melupakan proses yang harusnya mereka lewati dan pahami. Dia ingat dan baru menyadari kenapa dulu gurunya tidak memperbolehkan sang murid untuk menjawab soal dengan jawaban singkat tanpa menuliskan caranya terlebih dahulu.

Dia mulai berhenti mengajar, menyadari bahwa dia belum pantas menjadi seorang guru. “mungkin saya memang tak cocok menjadi guru”, terbesit pikirannya untuk melepaskan apa yang menjadi impiannya. dia mulai memikirkan masa depannya, menjadi guru tak akan memberinya cukup banyak uang, lagipula dia tak bahagia saat mengajar dengan motivasi uang. lingkungan tempat dia belajar dipenuhi oleh orang-orang hebat, orang-orang yang di masa depan mungkin akan menjadi pengusaha terkenal, bos (jabatan tinggi) di suatu perusahaan multinasional ataupun internasional, pejabat tinggi, dan hal lainnya yang di mata masyarakat saat ini disebut ‘sukses’. dia terlalu ciut, untuk ‘hanya’ menjadi seorang guru diantara teman-temannya yang akan ‘sukses’. dia mulai merubah impiannya, menjadi direktur di suatu perusahaan ‘xxx’ misalnya. Hei, it’s a big mistake!!

“it’s no use no matter how much you try to forget. it’s called love because you can’t forget it immediately, right?”

-Mikio

Tak mudah baginya merubah apa yang diimpiankannya sewaktu kecil (yang muncul dari dalam dirinya) dengan impian instan (yang muncul dari pengaruh sosial di lingkungannya). Dia berada di lingkungan orang-orang hebat, yang membuatnya merubah impian, dan itu bukanlah suatu kesalahan. Tidak ada yang salah dengan merubah impian, yang salah ketika dia membuat impian tinggi berdasarkan pandangan orang lain terhadapnya bukan apa yang sebetulnya dia inginkan. Berada di sekitar orang-orang hebat mempengaruhi pemikirannya, dia belajar banyak disana, sangat banyak. Kegiatan yang diikutinya di organisasi mahasiswa mulai menyalakan kembali impiannya dulu, impian yang sempat hilang, impian yang sempat terpikir setelah dia bermimpi menjadi guru dan menghapusnya karena menganggapnya tak mungkin, namun kini kembali. menjadi guru tetap menjadi impiannya, namun kini dia memimpikan lebih dari itu.

Dia sadar meraih impiannya kini bukanlah hal yang mudah. Dia masih belajar untuk menjadi guru, memantaskan diri. dia punya caranya sendiri, entah caranya berhasil atau tidak, dia hanya bisa berusaha, Tuhanlah yang menentukan.

Aku hanya bisa mendoakan, sebagai teman yang selalu mendengarkan curhatannya.

*’Dia’ dan ‘Aku’hanyalah tokoh fiktif, bila ada kesamaan tokoh dan karakter hanyalah kebetulan semata

Saya pernah menonton serial Drama Jepang tentang guru, seperti “GTO (Great Teacher Onizuka)”, “GTO 2012”, dan “Dragon Zakura”. Dua buah cerita yang menarik, yang satu menyentil realita yang ada saat ini dan yang satu lagi menyajikan realita yang ada. Mana guru yang lebih baik? Onizuka yang ‘bodoh’ dalam hal pelajaran tapi dekat dengan murid-muridnya dan hebat dalam mengajarkan hal diluar kelas yang sebenarnya penting namun sering dilupakan, atau sakuragi yang dingin, keras, seakan tak punya hati, namun dia memikirkan apa yang baik bagi muridnya, dia menyajikan realita yang ada dan mengajarkan bagaimana menghadapinya. saya suka ketiganya, banyak pesan yang disampaikan, khususnya untuk kamu yang ingin menjadi guru.

One thought on “Menjadi guru

  1. Semangat! Semoga bisa tetap menjadi guru, misal dengan membuat blog berjudul “Mudahnya matematika” atau jurus ampuh matematika, atau apalah itu.. haha.. Semangat!
    I like encouraging people to do what they love, karena aku bisa merasakan aura positif di dalamnya ketika mereka melakukan apa yang mereka cintai. hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s