Are you happy?

Suatu hari saya pernah bertanya pada seorang teman saat dia menceritakan kegiatannya,

“Are you happy with that?”

pertanyaan yang sebenarnya ingin ditujukan pada diri sendiri. waktu berlalu sampai dia menyelesaikan kegiatannya mengarungi dunia, dan sempat kami berbincang kembali dia bertanya balik dengan pertanyaan yang sama mengenai pekerjaan yang saya geluti

“Are you happy?”

terlalu sulit untuk mengatakan ya, namun alangkah kurang bersyukurnya bila mengatakan tidak. teringat suatu kutipan

“rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri” 

kadang kita merasa apa yang orang lain miliki atau lakukan lebih baik daripada apa yang kita miliki. di beberapa kesempatan, saya melemparkan pertanyaan yang sama kepada beberapa teman namun tak ingat apa jawaban mereka karena jawabannya bukanlah ya ataupun tidak.

Kemarin saya bersilaturahmi bersama teman-teman kuliah dalam acara buka puasa bersama. setelah lebih dari setahun kami meninggalkan kampus tercinta, banyak dari kami yang telah mendapat pekerjaan, dan ada juga yang memilih untuk melanjutkan study.

Apakah mereka telah sukses?

Jawabannya relatif, tergantung bagaimana kita memandang apa arti sukses itu sendiri. jika hanya memandang dari segi pekerjaan dan kemandirian secara finansial, mereka mungkin bisa dikatakan sukses tapi rasanya terlalu sempit untuk menilai kesuksesan hanya dari segi materil yang dimiliki. karir yang akan mereka lalui masih panjang, mencoba meraih sukses sesuai definisi mereka masing-masing.

Are they happy with their job?

Kemarin malam tanpa disadari hal yang paling banyak diperbincangkan tak jauh dari cerita pekerjaan yang saat ini sedang digeluti dan saya pun terlarut dalam suasana tersebut. Apakah itu pertanda kami senang dengan pekerjaan yang kami geluti? Entahlah, sulit untuk ditebak.

Are you happy with your career?

Are you happy with your life?

Do you care?

-Rene Suhardono dalam bukunya “Your Job is Not Your Career”-

Sore tadi, saya diundang kembali untuk menemani belajar seorang teman setelah 2 bulan terakhir tak bisa saya lakukan. cukup senang karena dia masih mempercayai saya untuk menemaninya belajar. 2 jam yang singkat namun menyenangkan.

terkadang muncul pertanyaan dari diri sendiri, “jika memang kamu suka mengajar dan mungkin saja itu passionmu, kenapa tak kau tinggalkan saja pekerjaanmu sekarang dan jadilah guru.”. Namun kenyataannya saya takut melakukannya, takut terperangkap dalam zona nyaman, takut tak bisa berkembang, dan beberapa alasan lainnya. Akhir-akhir ini saya menyadari bahwa kebahagian tidak harus dan tidak selalu diperoleh dengan melakukan apa yang menjadi passionmu.

“we would happier if we worryless for what makes us happy”

Di dunia ini banyak orang yang kurang beruntung baik dari segi finansial, kesehatan, dan hal lainnya namun tidak sedikit diantara mereka bisa bahagia walaupun dengan segala keterbatasannya. kenapa bisa? karena mereka pandai bersyukur, setidaknya itulah yg bisa saya pahami untuk saat ini. Bersyukur bukan berarti kita tak perlu berkembang karena sudah cukup dengan yang ada, tetapi untuk mengingat bahwa sedikit atau banyaknya yang kita miliki adalah karunia-Nya

“Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah

tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik

Tuhan pasti kan menunjukan, kebesaran dan kuasa-Nya

bagi hamba-Nya yang sabar dan tak kenal putus asa”

So, are you happy with what you are doing?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s