Nyasar

Hampir 24 tahun saya tinggal di kota Bandung, tapi ampe sekarang ga pernah hapal jalan-jalan di kota bandung. Dulu waktu jaman kuliah, teman dari luar kota sering nanya,

“ma, lo orang bandung kan? tau jalan ke xxxx ga?”

dan dengan malunya saya jawab, waduh ga apal coba tanya si xxx (nunjuk temen sesama orang bandung), haha.. maklum orang kurung batok.

tadi pagi saya mengalami hal konyol yang sebenarnya cukup memalukan diri sendiri. tak seperti biasanya, pagi itu saya berkunjung  dulu ke kantor imigrasi di jalan surapati karena memang diminta teman kantor untuk mengambil formulir. letak kantor imigrasi sudah tidak asing karena dari sejak SMA hingga kuliah tempat itu selalu dilewati saat perjalanan pergi maupun pulang. kekonyolan terjadi saat selesai dari kantor imigrasi akan menuju kantor yang terletak di jalan soekarno hatta. berhubung ga pake kendaraan pribadi, angkot menjadi andalan dalam berpergian (kurang bisa diandalkan juga sih sebenernya). di kantor imigrasi, otak ini berputar mencari jalur angkot tercepat menuju kantor.

Awalnya jalur angkot yang terpikir adalah dari surapati naik angkot sampe caheum, kemudian turun naik angkot yang nyampe perempatan antapani-kircon, turun lagi dan terakhir naik angkot caheum-cibaduyut 05 yang langsung menuju kantor. tapi dipikir-pikir jalurnya lumayan memutar dan bisa-bisa telat parah sampe kantor. saat itu waktu masih menunjukan pukul 07.30 dimana jadwal masuk kantor adalah 08.00. saya teringat suatu aplikasi di hp tentang bandung dan ada aplikasi jalur angkot. coba dibuka dan kemudian mulai mencari

dari : surapati

ke : soekarno-hatta

hasil pencarian memunculkan angkot “dago-pasar caringin” tanpa ada angkot lain, artinya cukup sekali naik angkot ini dan saya bisa sampai ke soekarno-hatta.

Saat melihat angkot tersebut dengan pedenya saya naik tanpa bertanya apa-apa. di tengah jalan mulai curiga dengan jalur yang dilalui sepertinya tidak menuju soekarno-hatta, tapi masih dengan pede tetap diangkot. Alhasil saat penumpang hanya tinggal 2 orang, sang supir pun menurunkan penumpang.

“jang dugi dieu weh nya”, (de, sampai sini aja ya)

saya sedikit bengong, sang supir pun bertanya kembali,

“emang bade dugi kamana?”, (memang mau kemana?)

dan masih dengan pedenya karena malu klo ternyata salah naik,

“oh sawios pa, didieu weh”. (oh gapapa pa, disini aja)

turun dari angkot langsung melihat sekeliling, sepi dan menemukan tulisan “Jl. Cigadung Raya”. waduh dimana itu? kayanya daerah dago ya? haha, nyasar. dengan masih jaga image seakan-akan ga nyasar, diam-diam saya mengikuti (dari belakang) penumpang lainnya  yg sama-sama diturunkan. ya siapa tau aja pas ngikutin dia nemu angkot yang dikenal. beberapa menit tak menemukan angkot lain yang dikenal akhirnya memutuskan naik angkot “dago-pasar caringin” dengan arah sebaliknya. kali ini untuk memastikan, saya tanya sang sopir,

“pa, ieu dugi ka soekarno-hatta?” (pa, ini nyampe ke soekarno-hatta?) 

sang sopir pun dengan lugas menjawab,

“sumuhun kang” (iya kang)

dan saya pun kembali naik angkot tersebut dengan pede karena menganggap tadi salah naik karena salah arah. di tengah perjalanan muncul kecurigaan kembali karena jalur yang diambil malah menjauh dari tujuan. ah tapi mungkin emang ada jalur lain yang menuju soekarno-hatta, tetap pede. makin lama di angkot kekhawatiran mulai muncul, jalan yang dilalui terasa semakin menjauh dan tak dikenal. aduh, orang bandung macam apa saya ini sampai ga tau jalanan apa yang dilalui. mencoba memastikan, aplikasi google maps pun dibuka, dan betapa kagetnya saat melihat posisi yang berada cukup jauh dari tujuan. disaat yang sama pula, tersadar bahwa jalan soekarno-hatta itu jalan terpanjang di bandung. Astagfirullah, pantes daritadi ngerasa aneh, angkot ini emang menuju soekarno-hatta tapi sangat jauh dari soekarno-hatta yang saya tuju. Haha, kacau betapa konyolnya diri ini.

Alhasil dengan sedikit rasa malu bertanya kepada sang supir tentang angkot mana saja menuju tujuan (kantor saya). ya akhirnya tiba juga sih di kantor walau waktu telah menunjukan jam 11.00. Telat 3 jam!!! padahal kalau tadi pake jalur angkot yang udah dihapal paling telatnya cuma sejam. tapi tetep walaupun telat masuk dengan pede seakan tidak terjadi apa-apa. Maklum udah kebiasaan telat #eh.

Hikmahnya apa ya? “malu bertanya sesat dijalan”, mungkin itu ungkapan yang tepat untuk pengalaman ini. Lain kali mudah-mudahan ga nyasar lagi deh.

4 thoughts on “Nyasar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s