Uang, harta kekayaan, dan rasa syukur

pernah ga sih kamu kepikiran untuk jadi orang kaya, punya harta banyak dan bisa melakukan apapun yang kamu suka? atau jangan-jangan  dari sejak lahir kamu udah dikasih rezeki sebagai orang kaya? dulu sewaktu masih kecil, sering kali kesuksesan dikaitkan erat dengan harta kekayaan, orang kaya adalah orang sukses, dikatakan sukses bila punya harta banyak. setidaknya itulah sindrome yang masuk dalam otak dan sedikit banyak berpengaruh hingga sekarang.

kenapa sih pengen jadi kaya? bisa membeli apapun yang kita suka, dan bisa melakukan berbagai banyak hal. begitulah pikiran sederhana saya sebagai seorang anak yang bukan berasal dari keluarga kaya raya. pemikiran itu bertahan cukup lama setidaknya sampai sebelum masuk bangku kuliah. memasuki bangku kuliah dengan hal-hal yang terjadi didalamnya, pemikiran itu perlahan-lahan melemah walaupun masih kuat, dan setelah memasuki dunia kerja tingkat pelemahan semakin kuat walaupun pemikiran itu tidak sampai hilang. ya, bahkan hingga saat ini saya masih ingin menjadi orang kaya namun dengan berbagai ganjalan hati akan keinginan itu.

ada pepatah yang mengatakan

“uang tidak bisa membeli segalanya, namun segalanya butuh uang”,

artinya apa, jangan jadikan uang sebagai tujuan namun jadikanlah alat untuk mencapai tujuan. apa bedanya? saat uang dijadikan sebagai tujuan, kamu cenderung ingin terus memperkaya diri, “yang penting punya banyak uang dan kau bisa melakukan apapun yang kau mau” begitulah kira-kira. saat uang dijadikan alat untuk mencapai tujuan, uang yang dicari sudah diplot untuk suatu kebutuhan/keinginan tertentu. masih terkesan sama saja? silahkan menafsirkan sendiri.

Apa yang dilakukan kebanyakan orang setelah lulus kuliah? sekolah lagi? membuka usaha baru? atau mencari pekerjaan? pengalaman pribadi menunjukan lebih banyak yang memilih untuk mencari pekerjaan. jadi inget dulu waktu sehabis lulus, pertanyaan

“daftar kemana aja?”

“udah keterima dimana?”

seringkali terdengar, namun yang lebih menarik perhatian adalah ketika akhirnya telah diterima kerja, seringkali muncul pertanyaan

disana dapet berapa?“.

pertanyaan yang untuk sebagian orang dianggap tabu dan tak perlu dijawab. agak sensitif mungkin, karena mempertanyakan uang yang kamu dapat setiap bulannya saat bekerja. seringkali besarnya uang (gaji) yang kamu dapat menentukan apakah kamu mau menerima kerja di perusahaan tersebut. tentunya kebanyakan orang mencari pekerjaan dengan gaji yang besar dan saya pun tidak menampik bahwa saat memutuskan kerja di suatu perusahaan tertentu besarnya gaji yang ditawarkan menjadi salah satu pertimbangan. lalu apa permasalahannya? entahlah, terkadang saya menganggap itu hal yang wajar, kita semua butuh uang untuk hidup, mendapat gaji yang besar karena berasal dari universitas ternama, mendapat gaji yang besar karena sesuai dengan beban tugas dan resiko yang dihadapi, ya saya anggap semua hal tersebut memang wajar. namun seringkali ada sesuatu yang mengganjal hati berkaitan hal ini.

teringat suatu kutipan,

“Jadilah orang kaya, karena dengan menjadi kaya kamu bisa memberi lebih banyak”, 

sangat bagus menjadi kaya dengan tujuan mulia, tapi tak perlu menunggu sampai menjadi kaya untuk bisa memberi. jika kamu punya niatan untuk memberi, lakukanlah saat ini juga tak perlu menunggu kondisimu kaya atau tidak, jika tak punya uang masih ada raga dan pemikiran untuk berbuat sesuatu dan ketika suatu hari nanti menjadi kaya kamu akan benar-benar bisa memberi lebih banyak. memberi bukan sekedar berapa besar jumlah uang yang kita berikan namun lebih kepada niatan, keikhlasan, dan ketulusan  serta manfaat dari apa yang kita berikan.

orang kaya tentunya mendapat rezeki harta yang lebih banyak daripada orang miskin, tentunya seharusnya mereka lebih banyak bersyukur. namun yg seringkali terlihat justru orang miskin yang lebih bisa mensyukuri rezeki. entahlah mungkin itu hanya pandangan sempit saya pribadi. seseorang yang mungkin untuk makan aja susah, saat dia diberi rizki berupa makanan, mungkin dia akan berterima kasih dan bersyukur atas makanan yang diterima. namun orang yang sudah biasa makan 3 kali sehari dengan makanan yang enak saat pergi ke suatu tempat dan hanya bisa makan sekali sehari dengan menu seadanya cenderung untuk mengeluh.

sepertinya seseorang lebih bisa bersyukur saat dia merasa ada penambahan, bukan apa yang dia miliki. orang miskin yang menjadi orang paspasan bisa lebih mensyukuri rizkinya dibandingkan orang kaya yang menjadi orang paspasan, orang buta yang akhirnya bisa melihat akan bisa lebih mensyukuri keberadaan mata dibandingkan orang normal yang sudah biasa bisa melihat. apakah kita mesti kehilangan sesuatu lebih dulu baru bisa bersyukur?

semua yang saya tulis disini hanyalah pandangan sempit yang selama ini terus berputar dalam pikiran bertahun-tahun lamanya. seperti suatu percakapan monolog dengan dua pikiran yang saling bertentangan, seperti mengutip tulisan seorang teman,

“percaya uang tidak dapat membeli kebahagiaan, namun hidup tetap mempertahankan uang (kekayaan).”

kesimpulannya jangan lupa bahwa tujuan hidup kita adalah mencari Ridha Allah SWT.

3 thoughts on “Uang, harta kekayaan, dan rasa syukur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s