Supir langganan

sudah menjadi bagian dari pekerjaan untuk berpergian ke luar kota. Seringkali tempat-tempat yang dikunjungi adalah tempat yang baru dimana saya benar-benar tak tau apa-apa tentang kondisi lokasi tersebut. terkadang ada seorang teman yang bersama-sama pergi ke lokasi yang lebih dulu mengenal kondisi lapangan, disini menjadi pengikut adalah hal yang biasa saya lakukan untuk belajar dan mengenal kondisi lapangan. terkadang ditemani seorang teman yang juga sama-sama tak mengenal kondisi, disini berlaku peribahasa “Malu bertanya, sesat di jalan”.

dengan modal bertanya kita jadi bisa mengenal lebih tentang kondisi suatu tempat. namun berhati-hati pula lah dalam bertanya dan berkomunikasi dengan orang yang baru kita kenal. Memang tidak baik untuk bersuudzon, tapi ga ada salahnya untuk waspada terhadap orang yang baru kita kenal, waspada ama suudzon emang beda tipis sih.

di beberapa lokasi yang saya kunjungi, yang kebetulan kebanyakan dikujungi dengan pesawat terbang, sopir taksi di bandara sering kali menjadi orang pertama yang dikenal di tempat tersebut. waktu yang cukup lama di dalam mobil memberi waktu yang cukup untuk berbincang-bincang dengan sang sopir. dari situ kita bisa mendapat banyak info tentang tempat yang dikunjungi dan lebih lagi kita berkenalan lebih dekat dengan sang sopir. tak semua sopir memang bisa menjadi teman yang baik dalam perjalanan karena tentunya karakter setiap orang berbeda-beda, tapi saat kamu bertemu dengan orang yang tepat, mungkin kamu akan bersyukur telah bertemu dengan mereka.

Saya memiliki sopir langganan di beberapa tempat. di saat-saat saya harus ke lokasi sendiri, mereka bisa menjadi teman yang baik untuk menjadi tempat ngobrol dan bertanya. di Ambon misalnya, saya memiliki sopir langganan yang masih muda (tapi masih lebih muda saya), orangnya slengean, agak nakal, tapi dia bisa menjadi teman yang baik dan bisa dipercaya.

lain lagi dengan di Makassar, saya mendapatkan cerita da n pengalaman dari sang sopir. Umurnya sudah cukup tua mungkin di atas 50tahun, orangnya baik dan sopan. cerita kehidupan dia menarik untuk diceritakan.sebut saja dia Mr. A. dia berasal dari kalangan menengah ke bawah, ayahnya adalah seorang pegawai (supir klo ga salah) yang bekerja pada keluarga kaya raya. saat dia masih kecil ayahnya meninggal, hal ini memberi rasa iba pada keluarga sang majikan sehingga mengadopsi Mr. A. dia bercerita bahwa dia diperlakukan sangat baik oleh keluarga sang majikan, diberi tempat tinggal, disekolahkan di tempat yang layak dari kecil hingga dewasa. berkat keluarga sang majikan itu pula lah beliau tidak sulit mendapatkan pekerjaan. karir beliau di masa muda cukup baik hingga puncaknya beliau menjadi kepala logistik di suatu perusahaan yang salah satu direkturnya adalah anak kandung dari sang majikan yang telah dia anggap sebagai kakaknya sendiri. saat itu hidupnya sangatlah berkecukupan namun di saat itu pulalah imannya menjadi sangat lemah, tak jarang beliau melakukan perbuatan melanggar agama. Entah saya lupa kenapa, suatu hari dia memutuskan untuk tidak selalu bergantung terhadap keluarga sang majikan. dia mengundurkan diri dari perusahaan (saat menjadi kepala logistik) dan berusaha mencari pekerjaan sendiri. dia mencoba berinvestasi tapi naas, dia tertipu dan uang ratusan juta yang telah ia miliki dari hasil kerjanya di masa lalu raib membuat hidupnya tak semewah dulu lagi. Akhirnya dia memilih untuk menjadi supir yang pendapatannya sangat jauh dibandingkan dengan pekerjaannya dulu. Namun dia berkata bahwa dia lebih bahagia sekarang dibandingkan dulu saat kaya. “dulu godaannya besar”, begitu katanya. memang dia bercerita setelah kejadian penipuan itu, dia secara perlahan mulai bertobat, mulai menjauhi yang dilarang agama. pertemuan dengan Mr. A menambah keyakinan saya atas satu hal, “Uang tidak menjamin kebahagiaan”.

Dan sopir langganan terbaik saya ada di Yogyakarta. sebut saja Mr. Y. bisa dibilang Mr. Y ini supir sekaligus pemilik dari bisnis rental mobil. memang sih bisnis rental mobilnya ini masih kecil-kecilan baru 3 mobil katanya, dan beliau turun langsung sebagai supir dalam bisnisnya ini. beliau ini benar-benar melakukan usahanya ini dari nol. Mr. Y ini umurnya di atas 50 tahun, beliau sangat saya hormati bukan saja karena umurnya namun karena sikapnya yang memang bisa menjadi contoh. bisa menjadi teman yang baik pula untuk mendengarkan curhatan bocah seperti saya. dan disaat saya sendiri dan pusing dengan masalah yang dihadapi, tak jarang beliau memberi masukan yang baik untuk meredakan masalah yang saya hadapi. dan saya juga salut bagaimana beliau mendidik anaknya. anaknya dididik untuk menjadi anak yang pintar dan mandiri, asal tau saja anak pertamanya kini kuliah di kedokteran UGM, Wow, luar biasa. bersyukur bisa mengenal beliau.

Ilmu itu memang bisa didapat dimana saja, kapan saja, dan dari siapa saja. pengalaman ini mungkin ha biasa namun berharga, setidaknya untuk saya. Masih banyak orang di luar sana yang bisa memberi kita pelajaran berharga, tidak harus dari seorang profesor, tidak harus dari seorang direktur, tidak harus di sekolah, tidak harus di seminar, mungkin dari pedagang asongan di pinggir jalan, mungkin dari orang yang baru kita kenal di bis, semuanya mungkin terjadi atas kehendak-Nya, tinggal bagaimana kita mengambil pelajaran dan bersyukur atas karunia-Nya. dunia nyata memang tak semudah kata-kata tapi tak ada salahnya untuk mencoba.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s