Kisah para Pengajar Muda di Pelosok Negeri

Entah apakah ini resume atau resensi buku, yang jelas ini adalah  tulisan tentang sebuah buku yang menemani perjalanan saya dalam sebulan terakhir ini. “Indonesia Mengajar: Kisah para Pengajar Muda di Pelosok Negeri”, sebuah buku yang berisi kumpulan kisah para pengajar muda Indonesia mengajar angkatan 1 yang menjalani harinya-harinya menjadi guru selama setahun di pelosok negeri yang masih tertinggal.

Buku ini saya beli pas lagi ada roadshow IM di sabuga akhir November tahun lalu, kebetulan lagi promo karena memang baru launching. saya beli 2, satu untuk saya pribadi sedangkan satu lagi untuk seorang teman.

Alhamdulillah, setelah sebulan lebih akhirnya khatam juga, mulai dari cover ampe halaman belakang. selesai sudah tugas buku ini dalam menemani perjalanan saya selama diangkot menuju kampus. agak jarang memang seseorang membaca sebuah buku dalam sebuah angkot karena akan banyak noise yang bisa mengganggu konsentrasi membaca namun saya cukup tenggelam dalam suasana yang dibawa dalam setiap tulisan para pengajar muda ini sehingga noise yang ada ter-filter dengan sendirinya.

***

Di bagian awal buku ini terdapat pengantar yang ditulis langsung oleh pencetus Gerakan Indonesia Mengajar, Pa Anies Baswedan. sedikit kutipan pengantar beliau,

“Saya ingat saat melepas mereka berangkat. Kami berjabat tangan satu persatu. Jabat dengan erat. Saya tatap mata mereka. Bening mata kita, ada ambangan air menyerupai cermin. Tak ada banyak kata yang diucap. Hati kitalah yang saling berjawab. Langkah mulia bagi Pengajar Muda itu diayunkan dan kita ucapkan selamat berjuang. Gema syair lagu “Padamu Negeri” yang dinyanyikan oleh 51 Pengajar Muda pada pagi itu di Bandara Soekarno-Hatta seakan menggema hingga kini.”

Ada 62 petualangan yang bisa dijelajahi dalam buku ini. banyak kisah menarik dengan cara penulisan yang berbeda-beda tentunya. cerita inspiratif, lucu, mengharukan, dan banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah-kisah ini. sedikit bercerita tentang beberapa kisah yang  saya suka dari buku ini..

***

Ini kisah Sekar Arrum salah seorang pengajar muda yang ditempatkan di Majene. tersentil dengan perkataan salah seorang muridnya bahwa bertemu dengan bupati, gubernur, wakil presiden, ataupun presiden adalah hal yang tidak mungkin bagi mereka, murid-murid SD di Majene. mendapat kabar wakil presiden akan berkunjung ke Majene, bu Arrum diberi kesempatan untuk membawa salah seorang muridnya untuk bertemu wakil presiden.

Untuk memilih murid yang beruntung tersebut akhirnya bu Arrum membuat sayembara untuk membuat surat untuk wakil presiden. akhirnya surat dari Satriana, seorang siswi kelas 5 terpilih untuk ikut bersama bu Arrum bertemu pa Wapres. pada hari-H, Satriana tidak sekedar melihat pa Wapres dari kejauhan namun dia dipanggil untuk menyerahkan surat yang telah dibuatnya dan bersalaman dengan pa Wapres. coba bayangkan betapa bahagianya perasaan satriana bertemu dengan pa Wapres.

Bu Arrum telah membuat hal yang awalnya mereka anggap tak mungkin, menjadi mungkin. Semoga ini menjadi aura positif untuk mengubah cara pandang murid-murid SD di Majene untuk tidak membatasi mimpi mereka. Oiya sedikit kutipan dari surat satriana …

“Pak, saya ucapkan selamat kepada Bapak karena Bapak telah berhasil menjadi wakil presiden. Waktu kecil Bapak pasti bercita-cita menjadi wakil presiden, dan sekarang sudah terwujud. Saya juga bercita-cita jadi dokter, Pak. Doakan agar saya bisa jadi dokter, ya, Pak.”

***

Kisah lainnya dari Firman Budi K salah seorang pengajar muda yang ditempatkan di Majene. kisah ini bukan tentang belajar mengajar di kelas ataupun tentang murid-muridnya melainkan kisah lucu Firman BK yang dipercaya untuk memberi nama pada bayi yang baru lahir di desa tempat ia tinggal. kaget, jelas ini adalah hal yang tidak pernah terpikirkan akan terjadi oleh Firman BK. akhirnya dia pun berpikir, mencari nama-nama yang cocok untuk sang bayi, dan syukurlah orang tua bayi tersebut senang dengan nama pemberiannya.

Ternyata tak selesai sampai disitu, beberapa hari setelahnya dia diminta kembali untuk memberi nama bayi. banyak nama dia pikirkan, dan tak jarang sang ibu menolak nama yang diberi oleh Firman BK, namun pada akhirnya sang ibu bayi setuju dengan sebuah nama yang tak lain adalah nama salah seorang pengajar muda sahabat Firman BK. siapakah dia? baca aja ya bukunya,, hehe..

Firman BK menunjukan bahwa dia tidak hanya hadir sebagai seorang guru, betapa dia diterima, dihormati, dan betapa dia dipercaya oleh warga tempat ia tinggal..

***

Kisah lainnya datang dari Pengajar muda Bengkalis, Bagus Arya Wirapati (sebut saja Pa Roy). kisah tentang percobaan menumbuhkan kacang hijau dengan wadah kapas basah. mungkin banyak yang familiar dengan percobaan ini. percobaan dilakukan dengan beragam variasi, ada yang ditempatkan di gelas di bawah sinar matahari, ada yang di dalam kardus tanpa merasakan sinar matahari, dan ada juga di dalam kaleng yang hanya ada sedikit lubang untuk masuknya sinar matahari.

Hasil percobaan menunjukan pertumbuhan yang berbeda-beda, tumbuhan dalam gelas tumbuh subur, dalam kardus tumbuh tinggi namun daunnya kekuningan, sedangkan dalam kaleng tumbuh tinggi dengan daun yang hijau dan menyusup keluar dari lubang kaleng tersebut. Para murid bertanya penjelasan ini, dan Pa Roy menjelaskan tentang hormon auksin yang merupakan hormon pertumbuhan bagi tumbuhan. Hormon auksin menyebabkan tumbuhan bertambah tinggi. hormon ini akan terpecah oleh sinar matahari sehingga hormon auksin akan berkurang namun karena terkena sinar matahari tumbuhan bisa berfotosintesis sehingga tumbuhan menjadi subur. dan tumbuhan dalam kaleng yang tumbuh ke arah sinar matahari juga dipengaruhi efek auksin. Dan di akhir pelajaran pa Roy memberi filosofi mengenai auksin.

“Jadilah Manusia Auksin. Dalam terang kita tumbuh subur, dan dalam gelap kita menjadi lebih tinggi, lebih dewasa. Layaknya auksin yang membimbing tumbuhan untuk menuju arah datangnya cahaya. Tak ada harapan harus membuat kita berusaha keras untuk menemukan harapan tersebut, menciptakan jalan kita sendiri. Dengan demikian kita akan tetap dapat tumbuh lebih tinggi dan subur, entah ada atau tidak ada matahari dalam hidup kita.”

***

Masih ada lagi sebenernya kisah-kisah yang saya suka tentang pengajar muda yang bertemu dengan guru dari Yogyakarta yang sejak awal milenium mengabdikan dirinya untuk mengajar di pedalaman Kalimantan. lalu kisah dari Yunita Fransisca yang pada hari guru diberikan kartu ucapan selamat dari murid-muridnya dan saat dia masuk kelas, serentak semua murid menyanyikan lagu “Terima Kasih Guruku” kemudian saat dia menoleh ke arah papan tulis telah ada tulisan “Selamat Hari Guru, Bu Nyunyun”

Itu hanyalah sedikit kisah dari serangkaian kisah yang ada di buku Indonesia Mengajar, sedikit kisah dari serangkaian kisah yang tertulis dalam blog Indonesia Mengajar, sedikit kisah dari serangkaian kisah para pengajar muda yang tak tertulis, dan sedikit kisah dari serangkaian kisah para pendidik yang tak banyak dikenal tapi tetap mengabdi untuk pendidikan di negeri ini. Adakah kisah kita dalam serangkaian kisah itu? Klo kata Pa Anies Baswedan sih …

“Mendidik adalah tugas semua semua orang yang terdidik”

Mendidik tak harus menjadi guru, tak harus menjadi dosen, tak harus menjadi Pengajar Muda Indonesia Mengajar, banyak cara yang bisa dilakukan, banyak kisah yang bisa dibuat yang terpenting kita punya tujuan yang sama : Mencerdaskan Kehidupan Bangsa.

Oiya, yang mau baca bukunya saya udah beres bacanya klo mau minjem sok-sok aja,, hehe..

2 thoughts on “Kisah para Pengajar Muda di Pelosok Negeri

    • Waalaikumsalam wr wb.

      boleh2 saja mba putri, asal ketemuannya masih di daerah kampus itb😀

      *oh iya klo boleh tau ini mba putri yg mana ya? apa kita pernah ketemu? maap mungkin saya lupa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s