Catatan Perjalanan

25 Februari 2011

7.30 pm : Prologue

Saya berada di HME dan sudah siap untuk pulang. Di selasar HME terlihat banyak anak2 HME yang sedang ngoprek air text, ya malam itu sedang ada acara HME ngoprek yang di-organized oleh anak2 Keprofesian HME, dalam hal ini Ausi sebagai PJ sepertinya cukup sukses menjalankan kegiatan ini. Kembali lagi ke saya karena cerita ini bukan tentang HME ngoprek, saya meninggalkan HME untuk menuju rumah. Malam ini saya ikut ke dalam rombongan surveyor Girimukti yang beranggotakan Hakim (Leader), Zaki, Moo, Masram, Imuf, Upi, dan saya akan survey ke desa Girimukti dengan tujuan utama perizinan HME Masuk Desa. Berbeda dengan yang lainnya yang berkumpul dulu di HME sebelum pergi, saya meminta izin untuk pulang dulu ke rumah (berhubung memang belum pulang dalam 2 hari itu) untuk bersiap2 dan minta izin ke ortu.

9.45 pm : Berangkatttttt!!!!

Singkat cerita akhirnya jam 9.45pm tim survoyer (tanpa saya) pergi dari kampus tercinta dan saya ikut rombongan di daerah ujung berung (dekat rumah saya tentunya) dan Perjalanan pun dimulai.

11.30 pm : Briefing di saung..

Kami sampai di suatu tempat peristirahatan di daerah Garut. Di tempat tersebut ada suatu saung tempat untuk menginap (gratis). Tempat ini kami ketahui dari Zaki, anak KMPA dan menjadi mentri pengmas di kepengurusan BP0910, katanya tempat ini memang sengaja dibuat untuk memfasilitasi orang-orang yang suka melakukan perjalanan (kaya anak2 KMPA) dan Zaki dengan teman2 KMPA-nya sudah beberapa kali menggunakan tempat ini. Selain terdapat saung, di tempat tersebut juga terdapat Masjid yang bernama Masjid Hidayatul Muna dan tentu saja yang terpenting disana juga terdapat toilet. Sebelum terlelap dalam kegelapan malam, kami briefing untuk kegiatan esok hari.

 

Briefing Details

  • Date and Time:  25-26 Februari 2011/ 11.45pm – 12.35am
  • Location: Saung, Rest Area Garut
  • Attendees: Hakim (pimpinan), Zaki, Imuf, Moo, Masramdhani (notulen), Upi, Kharisma

Summary

  • Berangkat ke desa 05.15 –> bangun jam 04.45 (PJ Bangun : Moo)
  • Sarapan di jalan, berhenti di POM terakhir (jam 06.00)
  • Sembari cari transit bus/truk
  • Max jam 09.00 nyampe tempat bu Kuwu (max 2 jam)
    • Proposal + surat izin HME Masuk Desa
    • Tanya maslah polisi ama bbu Kuwu + truk
    • Tanya jalan
  • Sebelum dzuhur udah di desa
    • Parkir di deket kandang kambing, cari RT ama RW
    • Ketemu pa RT ngomongin teknis HME Masuk Desa
  • Di Pa RT (maks 2 jam)
    • Mau baksos dengan tujuan …..
    • Ngomongin penginapan
    • Masalaha makanan
    • Acara –> sembako, al qur’an, layar tancep
  • ‘Haram’ dibicarakan –> pembangkit, Palapa
  • Di Sungai –> ngukur debit
  • Jam 16.00 kita pulang

 

26 Februari 2011

12.35 am : saatnya tidur..

Briefing selesai. Dinginnya malam yang menyerang tubuh ini dari segala arah cukup mengganggu waktu tidur, namun mata yang sudah semakin berat tak bisa ditahan lagi, akhirnya kami pun terlelap di tengah kegelapan dan dinginnya malam..

4.xx am : Banguunn woy!!

Bunyi alarm HP dan dinginnya pagi itu belum cukup untuk membuat saya beranjak dari ‘tempat tidur’, baru setelah Upi membangunkan dan menyuruh sholat, akhirnya saya terbangun. Kami memang tidak boleh bermalas-malasan agar perjalanan dapat berjalan lancar sesuai rencana. Sehabis sholat, di sebrang jalan kami melihat ada penjual bubur ayam di dekat warung (sebenernya menyatu dengan warung). Kami pun memutuskan makan bubur dulu sebelum pergi..

5.44 am : Berangkatt lagii..

Kami memulai kembali perjalanan menuju desa Girimukti. Perjalanan cukup lancar tanpa ada kecelakaan.

9 am : Obrolan di kantor desa..

Kami sampai di kantor kepala desa (masih sesuai dengan rencana, “Max jam 09.00 nyampe tempat bu Kuwu”). Sebelum masuk ke desa kami langsung didatangi oleh salah seorang warga berbaju dinas. Tingginya tak beda jauh dengan kita, tak berkumis, dan membawa tas kantor. Setelah beberapa saat kami ketahui bahwa warga tersebut bernama pa Asep, beliau bertugas menangani masalah kesehatan warga desa Girimukti. Melihat kami yang tampak asing bagi beliau, pa Asep langsung bertanya

siapa kami?

Dan ada maksud tujuan apa?

2 pertanyaan yang sering kali muncul saat kita pergi ke suatu desa. Kami menjelaskan bahwa kami mau bertemu dan sudah janjian dengan ibu Kuwu. Pa Asep pun mempersilahkan kami untuk masuk ke kantor desa.

Di depan kantor desa terlihat ada 2 orang warga yang sedang bekerja membuat olahan bangunan, dan disekitarnya juga jelas terihat ada bahan-bahan bangunan. Setelah bertanya dan diperhatikan ternyata, tepat di samping kantor desa ini sedang dibangun sebuah puskesmas. Bangunan puskesmasnya sudah mulai terbentuk, mungkin hanya butuh sekitar 1-2 bulan lagi hingga puskesmas ini selesai dibangun.

Masuk ke dalam kantor desa, yang pertama dilihat adalah banyaknya tumpukan karung beras. Sayangnya saya lupa untuk bertanya mengenai banyaknya karung beras ini.

Pa Sekdes yang berada di kantor menyambut kedatangan kami. Bagi pa sekdes, kami sudah tidak asing lagi. 2 kali survey ke girimukti sebelumnya telah bertemu dengan pa sekdes, bahkan Zaki dan Agil sempat menginap di rumah pa sekdes saat survey ke desa Girimukti yang pertama kali.

Orang yang ingin kami temui, bu Kuwu, masih belum datang (otw) sembari menunggu kami berbincang-bincang dengan pa Asep dan pa Sekdes. Sekedar info, bu Kuwu adalah sebutan untuk kepala desa disana. ‘Bu’ karena kepala desa Girimukti adalah seorang perempuan, dan ‘kuwu’, saya belum tau kenapa disebut kuwu mungkin berasal dari kata ketua?  Yang jelas kuwu bukan berasal dari nama asli bu Kuwu karena nama asli bu Kuwu adalah bu Oon (Oon –> kuwu,, ga ada mirip2nya kan??).

Tiba2 datanglah seorang perempuan berbaju dan berkerudung hitam, otomatis kami pun langsung bersalaman. Perempuan tersebut adalah orang yang kami tunggu, ya beliau adalah bu Kuwu. Dan mulailah pembicaraan antara kami, bu Kuwu, pa Sekdes, dan pa Asep.

Rangkuman singkat obrolan kami :

  • Sebagian besar penduduk bekerja sebagai buruh tani (ada juga yang petani)
  • Aktivitas warga –> pagi kerja (bertani), siang/sore baru pulang
  • Tujuan HME masuk desa ke dusun sukabakti bisa menimbulkan kecemburuan sosial di masyarakat. Kenapa?

Desa Girimukti terdiri dari 6 dusun. Dalam beberapa tahun terakhir, Setiap ada bantuan ke desa Girimukti selalu tertuju untuk dusun sukabakti. Hal ini karena dusun sukabakti merupakan tempat relokasi gempa yang terjadi beberapa tahun lalu. Seringnya tujuan bantuan ke dusun sukabakti sedangkan dusun lain mengalah lama-kelamaan dapat membuat kecemburuan sosial. Terlebih lagi, bu Kuwu sebagai kepala Desa memiliki banyak keluarga (Ibu, dll) di dusun sukabakti. Sehingga nantinya korban dari kecemburuan sosial ini akan tertuju kepada bu Kuwu selaku kepala desa.

  • Banyak warga di dusun lain yang lebih miskin dibanding warga di dusun sukabakti.Masih lebih banyak warga miskin di Dusun cikawung (masih desa Girimukti) dibanding dusun girimukti.
  • Usul dari bu Kuwu : Kegiatan HME masuk desa tetap dilaksanakan di dusun sukabakti sebagai pusat pelaksanaan namun untuk sumbangan/baksosnya sendiri ditujukan untuk desa girimukti.
  • Sumbangan tak perlu banyak, walau sedikit yang penting merata
  • Listrik PLN sudah masuk ke desa girimukti kecuali dusun sukabakti

Kami memberitahu bu Kuwu bahwa kami mau ke dusun sukabakti bertemu pa RT dan pa RW setelah dari sini. Namun bu Kuwu memperkirakan bahwa pa RT tak akan bisa ditemui jam segitu karena sedang bekerja, untuk memastikannya bu Kuwu pun menelpon pa RT. Dengan HP-nya yang ber’jaket’ pink, bu Kuwu mulai menelpon,

” Halo pa RT, ieu aya barudak ti ITB tea, nu basa itu kadieu. Bade papendak sareng pa RT saurna mah. Ari pa RT aya nuju dimana?”

Sebenernya kata2nya ga persis gitu juga tapi intinya sih sama.

Ternyata pa RT memang sedang tidak berada di dusun. Beliau sedang ‘mengukur’ bangunan/tanah. Jadi dusun sukabakti mendapat bantuan dari Baxxnas (lupa namanya) berupa pembangunan 20 rumah dan MCK. Nah pa RT sedang ‘mengukur’ untuk kepentingan tersebut.

Nah berhubung pa RT tidak bisa diteui saat itu juga maka kami memutuskan untuk menemui pa RT nanti sore saat beliau selesai bekerja. Mulai dari sini, secara waktu sudah diluar perencanaan.

Berhubung waktu pertemuan dengan pa RT masih lama, bu Kuwu menawarkan kami untuk berkunjung ke dusun cikawung. Masalah transportasi kesana, beliau menawarkan kami untuk naek ojek palang. Ojek palang? Katanya ojek palang itu motor yang bisa dinaiki ampe 4 orang penumpang + sopir (jadi 5). Cukup menarik untuk mencoba. Anpa banyak berpikir bu Kuwu langsung menelpon seseorang, pegendara ojek palang, untuk datang ke kantor desa.

11 pm : Ojek Palang,, seru gan!!

Seorang laki-laki berbaju orange mengendari motor yang diupgrade dengan balok kayu sebagai tambahan tempat duduk. Itulah Ojek Palang.

“sok, 4 orang dulu. Mau siapa yang duluan?”

Kami ada 7 orang : Moo, Hakim, Masramdhani, Imuf, Upi, Zaki, Kharisma. Dan dipilihlah 4 orang yang bertubuh relatif ringan. Bagi yang mengenal ke-7 orang tersebut, mungkin bisa menebak 3 orang diantarnya dan bingung menentukan orang ke-4,, haha.. 4 orang tersebut adalah Kharisma (tentu saja, saya yang paling ringan), Upi, Zaki, dan Imuf. Kami berempat pun naik ojek palang dengan formasi : Upi (depan kiri), Imuf (depan kanan–>samping kanan), Zaki (samping kiri), kharisma (samping kanan–>depan kanan). Dalam naik ojek palang ini, keseimbangan sangat penting. Kiri dan kanan sebisa mungkin tidak jauh berbeda agar driver  tidak sulit mengendalikannya. Motor pun dijalankan, belum apa2 motor harus menghadapi jalanan menurun yg lumayan curam, wow cukup tegang, rasanya kaya naek roller coster pas mulai turun (lebaayyy..).

Mungkin buat anda2 yang pernah ke desa, tau bagaimana jalanan di desa. Ya jalan yang kami tempuh saat menaiki ojek palang : tanah, berbatu, berkelok2, tanjakan, turunan, dan tak jarang di kanan atau di kiri jalan dekat jurang. Buat orang yang belum terbiasa pasti bakal kesulitan menghadapi jalan kaya gini. Tapi buat Mang Ading (Sorry lupa ngenalin, laki2 berbaju orange ini bernama mang Ading, beliau sering dimintai tolong nganterin bu Kuwu) jalanan ini bagaikan jalan bebas hambatan motor ini (palang) dijalankan dengan mudahnya walaupun dia membawa 4 penumpang sekaligus.  Tak jarang Mang Ading sengaja menyampingkan motor ke pinggir jalan yang dekat jurang, tentu saja kami terutama di sisi yang dekat ke jurang agak2 tegang dan tak jarang mulai mengeluarkan suara dan disaat itu Mang Ading tertawa bahagia,, hahahaha…. (kayanya mang Ading seneng klo kita yg baru pertama naek mulai ketakutan). Jalan yang rusak dan posisi duduk yg kurang enak mengakibatkan p****t sedikit kesakitan (klo udah ngomongin p****t jadi inget imul dengan buku p****t-nya, hehe..).

11.22 am : Dusun Cikawung..

Akhirnya motor pun berhenti di depan suatu bangunan rumah. Tampak tertulis di rumah tersebut “Kelompok Tani Cikawung” (tulisannya ga persis kaya gitu sih sebenernya, tapi intinya sih begitu), disamping rumah tersebut berdiri bangunan sekolah dasar berwarna merah putih, dan depan sekolah tersebut tampak dengan jelas sebuah tiang listrik PLN (yup, di dusun ini sudah dilistriki PLN). Kami telah sampai di dusun  Cikawung. Mang Ading pun turun dan dia masuk ke rumah di depan kami berhenti dan memanggil penghuni rumah tersebut. Seorang perempuan keluar dari rumah tersebut dan mempersilahkan kami masuk. Mang Ading pamit untuk menjemput 3 lagi (Moo, Masram, dan Hakim) sedangkan kami masuk ke rumah.

Baru saja masuk rumah, perempuan (ibu) tersebut langsung menyuguhi kami dengan makanan ringan (mun ceuk orang sunda mah ‘opieun’) dan segelas air putih tentunya. Saya lupa nama ibu ini yang jelas dia adalah bendahara desa., maka sebut saja perempuan ini bu bendes (bendahara desa). Kami dibiarkan menunggu di ruang tamu oleh bu bendes. Beberapa saat kemudian muncullah bapak2 kekar berbaju putih, tidak sekekar Ade Rai tapi cukup kekar untuk bisa bersaing dengan Edi ’08 dalam adu panco. Laki2 tersebut bernama pa Dindin yang tak lain adalah suami dari bu Bendes . Beliau langsung menyambut kami, dan melakukan pertanyaan standar

“Adek2 darimana?”

“Ada acara apa ni, datang kesini?”

Sebelum kami (berempat) berbicara banyak ke pak Dindin, bunyi khas dari ojek Palang terdengar. Terlihat Mang Ading membawa 3 orang penumpang yang tak lain adalah Moo (samping kanan), Masramdhani (samping kiri), dan Hakim (belakang). Setelah menurunkan ke3 penumpangnya, Mang Ading berceloteh ,

“Ieu ngan mawa 3 tapi leuwih beurat tinu tadi”

Kini kami telah komplit bertujuh, Mang Ading pamit setelah mengantarkan  kami semua, katanya sih masih ada kerjaan lain nanti dijemput lagi pas mau balik ke kantor desa.

12.xx pm : Obrolan di rumah Pa Dindin

Kami menceritakan kedatangan kami ke desa girimukti dan pertemuan kami dengan bu Kuwu sebelumnya ke pa Dindin. Pa Dindin ternyata merupakan ketua dari kelompok tani (poktan) cikawung sekaligus ketua Gabungan kelompok Tani (Gapoktan) desa Girimukti. Sesuai dengan namanya, gapoktan merupakan dari kelompok tani yang ada di desa Girimukti yang berjumlah 7. Mayoritas hasil pertanian di desa Girimukti berupa padi. Gapoktan maupun poktan berperan dalam menambah hasil panen yang sudah ada dengan cara pelatihan, dan lain sebagainya. Walaupun masih baru dibentuk (1-2 tahun) namun peran Gapoktan mulai dirasakan oleh para warga, dengan pelatihan yang dilakukan gapoktan banyak pengetahuan baru yang didapat oleh para petani. Kendala yang ada saat ini adalah ‘masih rugi’ dan hasil panen masih dikonsumsi sendiri.

Suara adzan telah berkumandang, kami pun izin ke pa Dindin untuk menjalankan ibadah sholat di masjid terdekat.

1.10 pm : sholat dzuhur dan ashar (di Jama)..

Saya tak hapal nama masjid ini. Letaknya tak jauh dari rumah pa Dindin, sejauh yang saya perhatikan tak ada yang spesial di masjid ini. Sembari menunggu giliran wudhu, kami bertemu kembali dengan pa Asep.  Pa Asep terlihat sedang berkeliling-keliling ke rumah warga untuk menanyakan …. Entahlah mungkin ada hubungannya dengan kesehatan (sesuai dengan tugasnya). Kami hanya sedikit berbincang dengan pa Asep, hanya sebentar saja dan kami langsung maksud ke dalam masjid untuk menjalankan sholat dzuhur dan ashar. Selesai sholat kami melakukan briefing singkat..

1.40 pm : saatnya makaaaaannnnn…..

Kami kembali dari masjid menuju rumah pa Dindin. Baru saja datang, kami langsung dipersilahkan makan. Di tempat makan, tampak 5 ikan pindang,  beberapa gehu, dan tentu saja satu bakul nasi  serta kerupuk sebagai pelengkap sudah tersedia, kami hanya tinggal menyantapnya. Saatnya maakaaannnnn…. Nyam nyam nyam..

Tepat saat kami selesai makan, suara khas motor ojek palang terdengar sangat dekat. Ternyata mang Ading telah datang kembali untuk menjemput kami kembali ke kantor desa. Kali ini mang ading membawa teman-temannya, 1 ojek palang dan 1 motor. Berarti kini jumlahnya 2 ojek palang dan 1 motor, sudah cukup untuk membawa kami bertujuh kembali ke kantor desa. Kedatangan mang Ading menandakan kami harus segera kembali. Berhubung kami baru selesai makan, dan kami ga ingin SMP dago (sudah makan pulang dasar g*****) ataupun SMAK dago (sudah makan angkat kaki dasar g*****), makanya kami ngobrol2 singkat dulu dengan pa dindin dan warga lainnya yang ada di rumah itu (tepatnya datang ke rumah itu karena kami datang). Akhirnya kami pun pamitan ke pa dindin. Sebelum meninggalkan rumah, munculah seorang laki2 tak berbaju dengan dada six peak, berkumis, dan berambut panjang. Laki2 itu hanyalah warga biasa yang datang untuk bertemu kami namun sayang kami sudah mau pamit.

2.xx pm : rumah bu Kuwu..

Kami pamit ke pa dindin dan warga yang ada di rumah itu. Saatnya kami kembali ke kantor desa dan menuju dusun sukabakti. Ingin merasakan kembali ojek palang, anak2 langsung berebut buat naek ojek palang, dan akhirnya saya mesti mengalah untuk tidak naek ojek palang namun naek motor. Mang Ading membawa 4 penumpang : Moo, Upi, Masram, dan Zaki sedangkan temannya mang Ading  membawa imuf dan hakim. Perjalanan menuju kantor desa berjalan lancar, hanya saja awan di langit atas kami tampak bersedih pertanda mereka akan segera mengucurkan air mata. Benar saja sesampainya di kantor desa, hujan mulai turun. Setelah sampai semua, kami pamit ke pa sekdes untuk pergi ke dusun sukabakti. Kami pun pergi naik mobil hakim, namun sebelum ke dusun sukabakti terlebih dahulu kami mengunjungi rumah bu Kuwu.

Kami sampai di rumah bu Kuwu. Rumahnya sudah bertembokan semen, bisa dibilang rumah bu Kuwu relatif sangat bagus dibandingkan rumah-rumah lainnya yang ada disana. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, bu Kuwu pun keluar dan mempersilahkan kami masuk. Penampilan bu Kuwu kali ini sedikit berbeda, beliau tidak memakai kerudung saat berada di rumah. Kami dipersilahkan masuk dan tentu saja sudah tersedia cemilan di meja ruang tamu. Hujan turun semakin deras, bu Kuwu menyarankan kami untuk menunggu hujan reda dulu baru berangkat. Dan kami pun menunggu di ruang tamu, cemilan di meja menjadi korban tangan2 kelaparan kami. Saat hujan mulai reda, kami siap untuk pergi namun sayang sekali pemilik rumah yang sedang kami tempati, alias bu Kuwu, sedang mandi. Mau tak mau kami harus menunggu bu Kuwu selesai mandi dulu karena ga sopan jika pergi tanpa pamit. Di rumah ini kami dibiarkan menunggu sehingga kami bebas mengobrol santai..

Singkat cerita bu Kuwu telah selesai mandi, dan hujan pun sudah mulai reda, kami pamitan ke bu Kuwu untuk pergi ke dusun sukabakti..

4.00 pm : jalan panjang dan licin menuju sungai..

Kami sampai di dusun sukabakti. Sebelum bertemu pa RT kami memutuskan untuk pergi sungai terlebih dahulu untuk melihat kondisi sungai disana. Hujan telah reda, mobil di parkir di atas dan kami memulai perjalanan panjang menuju sungai. Jalan menuju sungai, 95% tanah. Hujan yang turun sebelumnya membuat tanah menjadi sangat licin. Satu catatan yg harus diperhatikan, jangan bawa sandal yang licin seperti sandal capit (swallow, dll) karena anda akan kesulitan dalam melangkah. Ya setidaknya itulah yang saya rasakan, sandal ini pun terpaksa harus dijinjing untuk mempermudah jalan.

Di tengah perjalanan kami bertemu dengan warga yang baru pulang dari arah sungai. Setiap mereka bertemu kami, mereka berkata

“bade kamarana atuh?”

“meuni sore2 teuing ka sungai teh”

Ya walaupun dibilang seperti itu, kami tetap melaju menuju sungai.

Saya akui, saya menjadi orang yang paling lambat dalam berjalan, mungkin karena takut terpeleset jadi setiap langkah yang dilakukan cukup hati2, alhasil saya ketinggalan jauh dari anak2 yang lain seperti Moo, masram, upi, dan zaki. Sedangkan imuf dan hakim juga di depan saya tapi ga jauh2 amat. Hakim yang berada di depan saya sempat terpeleset beberapa kali (ampe 3 kali yg saya liat). Untungnya ga ada luka berat hanya baju yang tertempeli lumpur.

Berhubung saya paling lambat dan terlihat paling sulit melewati jalan, Upi memberikan tongkat kayu sebagai bantuan saya untuk berjalan. Tongkat kayu itu benar2 cukup membantu saya dalam melewati jalanan yang licin (walaupun tetap berada di barisan belakang)..

Akhirnya kami sampai juga di sungai. Besar sungai-nya tak begitu besar namun sudah cukup (perkiraan kasar) untuk dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik skala pikohidro. Debit sungai pada saat itu cukup besar namun kata masram yang sudah pernah ke sungai ini sebelumnya (survey sebelumnya), waktu itu aliran airnya ga sebesar ini. Ya mungkin ini karena sebelumnya hujan, jadi debitnya bertambah dengan cepat. Disini kami mengukur head sungai ini. Dengan menggunakan meteran didapatlah head sungai ini sekitar 2,8 m + 2,7 m = 5,5 m. Di tempat ini pula terlihat suatu penstock yang sudah terpasang. Ternyata penstock ini bekas pikohidro yang pernah dibangun oleh warga sekitar namun sudah tidak dipakai lagi. Di sekitar sungai juga terlihat 1-2 bangunan yang telah roboh, entah tempat apa itu sebelumnya.

Langit sudah memberi isyarat agar kami segera meninggalkan sungai dan kembali ke parkiran mobil.

Perjalanan kembali ke parkiran mobil cukup melelahkan, jalanan menanjak, licin, dan panjang (kayanya saya mesti rajin olahraga biar ga gampang cape).

Kami samapai kembali di tempat parkir mobil, dan langit pun kini telah dipenuhi kegelapan.

6.xx pm : menuju rumah pa RT
Tanpa menunggu lama kami bergegas menuju rumah pa RT. Tujuannya tak lain untuk membicarakan perizinan HME masuk desa dan teknis pelaksanaan kegiatannya nanti. Kami berjalan kembali, jalannya tak sepanjang perjalanan hambatan kami hanyalah kegelapan malam. Tak ada masalah berarti kecuali kaki kanan saya yang tiba2 keseleo dan terasa seperti keram (tapi bukan keram juga sih). Kami sampai di rumah pa RT. Sebelum masuk, anak2 yg berjalan tanpa alas kaki (termasuk saya) harus mencuci kaki terlebih dulu. Sayangnya untuk mencuci kaki, kami harus menimba air terlebih dulu (MCK memang menjadi masalah di dusun sukabakti). Kaki bersih dan saatnya masuk untuk bertemu pa RT.

7.35 pm : Obrolan bareng pa RT dan pa RW

Ada perbedaan mencolok antara rumah pa RT dengan rumah warga lainnya. Rumah pa RT, terang benderang sedangkan rumah warga yang lain gelap gulita. Listrik yang didapat rumah pa RT kemungkinan didapat dari narik kabel dari ???

Kami belum langsung ngobrol dengan pa RT karena masih menunggu pa RW yang sedang dalam perjalanan menuju tempat ini. Sembari menunggu, saya menyantap kicimpring dan gula merah yang disajikan sebagai cemilan (lapar gan..). Pa RW pun akhirnya datang dan musyawarah pun dimulai..

Rangkuman obrolan :

  • Pa RT maupun pa RW menyambut baik niat kita untuk melaksanakan HME masuk desa.
  • Masalah tempat menginap bisa menggunakan rumah warga asal kita melakukan konfirmasi setidaknya 3 hari sebelumnya.
  • Untuk melaksanakan kegiatan besar di malam hari harus menggunakan surat izin.
  • Pa RT dan pa RW menyutujui saran bu Kuwu untuk melaksanakan kegiatan di dusun sukabakti namun baksos yang dilakukan untuk desa girimukti.

9.xx pm : Back to Bandung

Waktu sudah semakin larut, saatnya kami pamit dan pulang ke Bandung. Pa RT dan pa RW mengantarkan kami hingga parkiran mobil. Bandung I’m coming!!!

 

27 Februari 2011

2.30 pm : Epilogue

Perjalanan pulang kami ditemani oleh lagu-lagu Glen Fredly (sialnya emang Cuma lagu itu yg ada di mobil hakim). Kami sempat singgah di rest area, tempat kami menginap saat pergi, untuk melaksanakan sholat isya dan magrib. Lebih dari setengah perjalanan saya terlelap di tengah2 Upi yang harus terjaga karena menjadi driver dalam perjalanan pulang ini. Tiba2 mobil berhenti di suatu tempat, saya pun dibangunkan dan lelapnya tidur. Ternyata mobil telah berhenti di tempat saya naik mobil ini saat berangkat, ini sudah di Ujung Berung, saatnya saya pulang ke rumah.

Saya berjalan menuju rumah di saat orang-orang terlelap dalam tidurnya. Pintu pun diketuk, ada perasaan ga enak karena harus membangunkan orang rumah (Ibu) yang sedang tertidur. Pintu pun terbuka, I’m Home!!!

It’s time to sleep..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s