Evaluasi Palapa II HME

Kamis, 27 Mei 2010. Rapat Evaluasi Palapa II HME ITB.

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, Palapa II HME yang memulai start pada tanggal 8 Juli 2008 (survey pertama kali) akhirnya finish pada tanggal 19 Mei 2010. Banyak suka dan duka mengiringi keberjalanan tim palapa. halangan dan rintangan terus menghadang mempersulit keberjalanan palapa 2, namun hal tersebut menjadi pembelajaran yang sangat berharga. saatnya menelaah kembali jalan yang sudah dilewati untuk mengingat kembali pelajaran yang telah didapat.

Palapa II HME memiliki tujuan untuk menciptakan desa mandiri energi dengan pilar ekonomi untuk kemandirian desa. Secara umum, untuk mencapai tujuan tersebut dibuatlah tiga divisi utama dalam kepanitian Palapa II yaitu Divisi Teknis (Engineering), Divisi Ekonomi (Economy Development), dan Divisi Pengembangan Masyarakat (Community Development).

Divisi Teknis

kadiv : Qosdha Tazakka

Awalnya Palapa II memiliki konsep untuk membangkit Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro seperti halnya Palapa I, ditambah dengan pembangkit listrik tenaga surya. Maka dibuatlah beberapa sub divisi seperti : civil work, turbin, sel surya, power distribution, riset, dan elektronika daya. civil work bertugas menangani pembuatan bendungan, turbin bertugas menangani pembuatan pembangkit tenaga mikrohidro, sel surya bertugas menangani pembuatan pembangkit tenaga surya, elektronika daya bertugas membuat sistem pengontrolan dari kedua pembangkit (air dan surya), power distribution bertugas menangani distribusi listrik ke rumah warga, dan riset bertugas meniliti tentang pembangkit tenaga angin.

Rencana untuk membuat Pembangkit mikrohydro terbentur dengan beberapa kendala diantaranya :

  • Pembangunan pembangkit mikrohydro dilaksanakan pada musim hujan sedangkan kondisi lapangan disana tidak memungkinkan untuk dilaksanakan pada musim hujan.
  • Jarak sungai ke perumahan cukup jauh sehingga butuh kabel distribusi yang panjang dan menyebabkan losses energi yang besar.
  • Dana pembuatan pembangkit mikrohydro besar sedangkan dana palapa terbatas.
  • Medan/kondisi jalan yang kurang baik menyebabkan sulit untuk membawa pembangkit (turbin).
  • dll

Karena kendala-kendala tersebut, rencana untuk membuat pembangkit listrik tenaga mikrohydro dibatalkan. maka dibuatlah konsep baru yang hanya menggunakan pembangkit listrik tenaga surya sebagai sumber energi. Perubahan konsep ini menyebabkan beberapa sub-divisi teknis menjadi pasif/tidak berjalan seperti : civil work, turbin, dan elektronika daya. Hal tersebut merupakan salah satu alasan yang menyebabkan sumberdaya anggota hme yang ingin ikut berkontribusi dengan mendaftar pada sub-divisi tersebut menjadi tidak termanfaatkan dengan baik (karena tidak dihubungi).

Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa kendala teknis yang terjadi seperti :

  • karena tidak dicek terlebih dahulu, terjadi hubung singkat yang menyebabkan rusaknya inverter. hubung singkat terjadi karena kabel pada tiang lampu terkelupas (kualitas kabel buruk) dan kabel tersebut menyentuh tiang lampu jalan (konduktor) sehingga terjadi hubung singkat. kendala ini diatasi dengan mengganti semua kabel lampu jalan dengan kabel yang lebih bagus sehingga tidak mudah terkelupas. beli inverter baru.
  • Kontroller rusak karena terkena induksi petir. kendala diatasi dengan menambah proteksi seperti MCB dan arrester pada console PV. beli controller baru.
  • Hilangnya (dicuri) lampu jalan yang sudah terpasang. hal ini terjadi akibat adanya miss komunikasi dengan warga. kendala diatasi dengan pendekatan kembali dan penanaman komitmen warga.

Sub Divisi Riset

kasubdiv : Wisnugraha

sub-divisi riset dibuat untuk menjadi sarana pembelajaran. riset yang dilakukan adalah penelitian tentang pembangkit listrik tenaga angin. kendala terbesar yang dihadapi terkait dengan dana. kendala lainnya adalah banyaknya anggota yang sibuk. Dokumentasi riset berupa paper, jurnal, modul, dll masih kurang.

Saran : Palapa melakukan research cukup sulit, apalagi bila terdapat kendala dana dan sumber daya anggota. lebih baik research diserahkan ke hme atau lembaga lain, yang penting koordinasi dengan hme/lembaga lain tentang riset tersebut lancar.

 

Sub Divisi Power Distribution

kasubdiv : Ditto Firdaus M

Pekerjaan teknis berjalan dengan lancar namun partisipasi warga dalam pengerjaan teknis kurang (warga yang membantu pekerjaan teknis dikit, dan orangnya itu2 aja). beberapa rapat yang dilakukan berjalan tidak efektif sehingga berikut-berikutnya jarang diadakan rapat. rapat hanya dilakukan bila ada yang harus diputuskan bersama.

Saran : anak teknis harus dekat dengan warga karena kerja teknis bareng warga.

 

Sub Divisi Elektronika Daya

kasubdiv : Ferdaus

karena adanya perubahan konsep, sub-divisi elda menjadi tidak berjalan. Rencananya sub-divisi elda akan membuat kontroller namun terjadi miss komunikasi sehingga akhirnya kontroller langsung beli di pasaran tanpa harus membuat.

 

Sub Divisi Turbin

Kasubdiv : Oculi

Sebelum konsep berubah, sudah berhubungan dengan Hexa turbin (tempat membuat turbin), konsultasi dengan dosen, dll. namun setelah konsep berubah, sub-divisi turbin menjadi pasif.

 

Sub Divisi Civil Work

Kasubdiv : Joko

Sulit dihubungi sehingga banyak miss komunikasi, setelah konsep berubah sub-divisi menjadi tidak aktif.

 

Economy Development

Kadiv : Ardian Inkaresa

Untuk pengembangan ekonomi masyarakat dipilih dibuat peternakan ayam. survey dilakukan ke dinas peternakan Jabar dan peternakan Kab. garut untuk mendapat rekomendasi konsep peternakan yang baik.

Kendala yang dihadapi :

  • Dinas peternakan terlalu bertele-tele memberikan informasi karena mereka berpikir akan mendapat keuntungan dari program ini.
  • Anggota hanya 2 orang (termasuk kadiv) sehingga pembagian tugas menjadi banyak. hal ini karena massa hme lebih banyak yang berminat ke divisi teknis.
  • Harga ayam mahal dan fluktuatif
  • bibit ayam arab sulit didapatkan sehingga beralih ke ayam kampung
  • mesen ayam ga ready stock
  • Mencari supplier dari bandung sulit jadi harus ke luar kota
  • Mesin penetas diberikan ke warga bekas (kualitas buruk) padahal bisa beli yang bagus namun Alhamdulillah masih bisa berfungsi.

Community Development

Kadiv : Achmad Sofyan

Pendekatan ke masyarakat dilakukan dengan musyawarah bersama warga. kegiatan yang dilakukan :

  • Mekarwangi Bahagia dan Ceria. Lomba yang diadakan untuk siswa-siswa SD mekarwangi berupa lomba cerdas cermat, menggambar, mewarnai, dan kaligrafi. Kendala : komunikasi dengan pihak sekolah sangat sulit, banyak SD yang tidak bisa ikut dengan alasan sedang ada kegiatan, jarak antar SD cukup jauh. Akhirnya MBC pertama hanya dilaksanakan di satu SD saja (SD 3) dari rencana awal 5 SD. Pada MBC pertama masih ada lomba yang belum selesai yaitu lomba cerdas cermat. rencananya final cerdas cermat akan dilanjutkan di kunjungan berikutnya. Namun karena sulitnya komunikasi dengan pihak SD 3, lomba cerdas cermat dilaksanakan ulang di madrasah dan berjalan lancar. Karena merasa perlu diberikan suatu tutorial untuk anak-anak madrasah dengan harapan pengetahuan mereka bisa bertambah.
  • Rumah Baca Palapa. dibuat di lantai 2 bangunan madrasah berisi buku-buku dan meja untuk membaca. Buku didapat dari sumbangan massa hme, donatur, dan sponsor. kebanyakan buku didapat dari sponsor dan donatur. Sempat mendapat hambatan di awal saat sedikitnya sumbangan buku dari massa dan gagal mendapat buku dari peserta PLO namun akhirnya bisa berjalan lancar setelah mendapat dana dari sponsor.
  • Koperasi dalam Kampoeng Bangkit Rumah Amal Salman. bekerjasama dengan rumah amal salman untuk terus mengembangkan desa mekarwangi setelah ditinggal Palapa II.

Kendala umum:

  • Terjadi salah komunikasi di awal seperti memberitahukan konsep awal kepada warga padahal konsep tersebut belum tentu teralisasi dan saat konsep awal tersebut berubah sulit mengklarifikasi kembali apa yang sudah diucapkan.
  • Sulit membangun kepercayaan warga, kebersamaan dengan warga kurang terbangun.
  • Hanya sedikit warga yang mengetahui konsep palapa sehingga timbul rumour di warga yang tidak mengetahui konsep palapa.
  • Kurang mengetahui kondisi sosial (social mapping) disana
  • Penjelasan sosial lebih efektif dibandingkan penjelasan teknis.

Solusi :

  • Jangan merendahkan warga (jangan menganggap kita lebih dari mereka)
  • Bila ada masalah menganai project, jangan segan untuk sharing ke warga agar kebersamaan dengan warga bisa lebih terjalin.

Saran : Pendekatan ke Masyarakat harus lebih dekat

———————————————————————————————————————————————————

Mudah2an evaluasi ini dapat berguna untuk project selanjutnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s